Register
Kreativitas

Kreativitas : Kunci Keberhasilan Kuliah Di Luar Negeri

 

Ani merupakan pelajar teladan di salah satu sekolah terkenal di Jakarta, yang melanjutkan kuliah di salah satu Universitas terkemuka di Australia. Di akhir semester pertama Ani mendapatkan nilai yang sangat jelek. Dari 4 mata kuliah yang dia ambil, hanya 1 mata kuliah yang lulus, itupun lulus dengan nilai pas-pasan. Kejadian ini tidak hanya menimpa Ani saja, tetapi beberapa teman Ani yang pintar juga mengalami hal yang sama.

Merasa tidak puas dengan nilai yang diterima, Ani beserta teman temannya menghadap salah satu dosen, yang mereka anggap paling killer, yaitu Prof.Heinz.  Ani cukup terhenyak dengan jawaban Prof. Heinz ,"Anda tidak lulus, bukan karena anda bodoh. Saya percaya pada Inteligensi Anda". Merasa tidak puas dengan statemen ini Ani pun kembali bertanya, "Kalau bukan bodoh, mengapa kami dinyatakan tidak lulus, apa salah kami?". Prof.Heinz kemudian menjelaskan, "Kalian tidak lulus, karena kalian tidak memiliki kreativitas yang memadai, kalian hanya pintar menjiplak". 

Menurut Pof.Heinz sistem penilaian kuliah di Australia lebih menekankan pada aspek kreativitas dibanding hanya mengekor pada gurunya.
Kalau kita cermati cerita diatas, ada perbedaan konsep pintar dan bodoh antara Ani dan Prof.Heinz.


Menurut Ani, yang namanya proses pembelajaran adalah murid menerima dari dosennya, dan memaparkan kembali materi yang diajarkan oleh gurunya pada saat ujian.
Dengan melakukan hal ini maka Ani berhak menuntut nilai bagus dari gurunya, hal ini seperti yang biasa Ani lakukan di Sekolahnya. Sedangkan menurut Prof.Heinz, Bila Ani melakukan hal ini, maka hal itu tidak bedanya dengan menjiplak hasil karya dosennya dan ini merupakan tindakan bodoh.

Menurut Prof.Heinz, proses pembelajaran adalah proses dimana Ani mengerti apa yang diajarkan dan memiliki kemampuan untuk menunjukkan pengertian dalam bahasanya sendiri dan mampu mengembangkannya.
Penilaian di bagian proses seperti pemberian tugas mandiri merupakan aspek yang paling penting di dalam mengukur pemahaman mahasiswa.Bahkan Prof. Heinz sering sekali memberikan persentasi yang cukup tinggi (70%) untuk tugas mandiri dibandingkan dengan persentasi test tulis. Hal ini kelihatannya masuk akal, karena Prof.Heinz lebih menekankan pada aspek kreativitas berpikir daripada menghafal.


Pembentukan kreativitas adalah pembentukan budaya.Budaya kreativitas ini penting untuk menjembatani perbedaan gap antara sekolah di Indonesia dengan sekolah/perguruan tinggi di luar negeri.
Kita berharap bila hal tersebut dapat diantisipasi, niscaya kasus seperti Ani tidak berulang lagi. Untuk sukses belajar di luar negeri, jadilah pribadi yang kreatif !.

Source : Gunawan Wang

 


 

Copyright 2008 by Santa Laurensia